Istilah catfishing muncul pertama kali di tahun 2010, yang dimulai dari sebuah dokumenter mengenai seorang lelaki di New York yang ‘dipancing’ untuk menjalin hubungan lewat internet dengan wanita cantik berusia 19 tahun. Seiring berjalan waktu, muncul keanehan yang memunculkan kecurigaan.

Lelaki yang bernama Nev Schulman ini kemudian melakukan investigasi dan menemukan bahwa wanita berumur 19 tahun yang selama ini menjadi pacar internetnya adalah seorang wanita berusia 40 tahun yang sudah menikah.

Kalau di Indonesia mungkin catfishing juga bisa dikenal sebagai ‘jebakan betmen’ kali ya?

Meski banyak istilah penipuan atau scam melalui internet, catfishing secara khusus lebih banyak digunakan pada tindakan penipuan yang memanfaatkan ketertarikan seksual, dan terutama mengincar para jomblo yang mencari pasangan secara online.

Fenomena catfishing marak dilakukan di berbagai platform website dan aplikasi. Sebagian pelaku catfishing melakukannya hanya untuk iseng atau kurang percaya diri, namun ada juga yang berniat buruk, mulai dari penipuan hingga tindakan kriminal lainnya.

Buat kamu yang mencari pasangan lewat social media atau Tinder bukan tidak mungkin pernah atau akan menjadi korban catfish. Entah ada berapa banyak akun palsu yang bertebaran di Facebook, Twitter atau Instagram.

Pelaku catfish bisa menyebabkan kerugian emosional atau finansial. Karenanya, jangan terlalu baper atau serius pacaran sama orang yang kamu kenal cuma lewat internet. Apalagi kalau dia berniat buruk, seperti melakukan penipuan finansial.

Jika kamu ingin menjajaki hubungan serius dengan orang yang kamu kenal lewat internet, ada baiknya kamu bertemu dengan si dia secara langsung.

Punya pengalaman pacaran lewat internet? Yuk share ceritanya.

Comments

comments